Ibuku Hebat......
“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam
jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan
pagi. Suasana pagi yang sangat dingin, membuatku enggan untuk beranjak dari
tempat tidurku yang hangat. Jam sudah menunjukkan pukul ham 5 pagi. Waktu yang
sangat pagi untuk terjaga di kota besar seperti Jakarta ini.
“Dinaaaaaaaa, bangun Nak, sholat shubuh dulu”. Suara
Ibu membangunkanku yang masih nyaman berselimut. “ Iya Bu”. Kata ku menjawab.
Pagi hari ku dimulai dengan bersujud kepada yang Maha
Kuasa agar disetiap harinya selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam
beraktifitas. Sarapan terlebih dahulu untuk mengisi tenaga sebelum berjibaku
dengan kemacetan ibu kota Jakarta. Aku bekerja disebuah perusahaan otomotif
sebagai karyawan swasta. Namun aku mempunyai cita-cita untuk membahagiakan
orangtua ku, terutama Ibu. Ibu ku ingin melihat anaknya menjadi seorang
sarjana. Aku sangat ingin mewujudkan itu.
“ Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu”?
Sesampai ku dikantor dengan ramah melayani setiap customer yang dateng.
“ Pagi Mba , saya ingin melakukan servis kendaraan
saya “.
“ Baik Pak, mohon tunggu sebentar akan saya
daftarkan”.
Begitulah kegiatanku selama jam kerja, mulai pukul 8
pagi hingga jam 5 sore. Aku sudah bekerja selama satu tahun diperusahaan ini.
Tabunganku sudah cukup untuk membayar biaya masuk kuliah tahun ini. Uang yang
aku kumpulkan sedikit-demi sedikit demi mewujudkan impianku serta Ibuku untuk
melihatku menjadi seorang sarjana. Aku harus berusaha sendiri mencari biaya
agar bisa kuliah karena pendapatan orang tuaku yang hanya cukup untuk memenuhi
biaya sehari-hari serta biaya sekolah adikku yang sekarang duduk dikelas 3 SMP.
Setelah sampai dirumah aku ingin mengatakan keinginan
ku untuk daftar kuliah kepada Ibu.
“ Bu, uang tabungan Dina Insyaallah sudah cukup untuk
biaya daftar masuk kuliah, aku minta izin sama Ibu untuk daftar kuliah tahun
ini. Dina sangat ingin menjadi sarjana Bu, ingin menjadi kebanggan Ibu dan Ayah,
aku ingin membuat Ibu bahagia” sembari memeluk ibu ku katakan niat tulus dan
semangat ku untuk berkuliah.
“ Alhamduliah din, kalau kamu bercita-cita ingin
menjadi sarjana, Ibu akan selalu mendoakan kamu agar kamu selalu diberikan
kemudahan dan kelancaran, Ibu sangat bangga padamu Nak, tapi untuk biaya
kuliahnya apakah kamu sanggup Nak untuk memenuhinya sendiri, karena penghasilan
Ibu dan Ayah hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari”. Jawab Ibu dengan muka
terharu sekaligus bahagia mendengar anaknya ingin melanjutkan kuliah
“ Insyaallah Bu, Dina akan berusaha untuk memenuhi
biaya kuliah Dina dari gaji Dina selama satu bulan, Ibu doakan saja ya semoga
lancar”. Kata ku dengan yakin sembari memegang tangan Ibu.
Aku pun mengikuti tes masuk perkuliahan dan dinyatakan
lulus dengan nilai rat-rata tertinggi, sehingga mendapatkan keringanan dalam
pembayaran.
Hari demi hari ku jalani masa perkuliahan , ternyata
tidak semudah yang aku bayangkan. Melakoni dua profesi secara bersamaan
membuatku sering merasa lelah dengan frustasi. Pagi hingga sore harus bekerja
keras di kantor, selepas mahgrib harus berkonsentrasi untuk mengikuti
perkuliahan. Malam hari pun harus ku gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah
yang menumpuk dari setiap dosen. Tapi, aku ingat semangat yang Ibu berikan
kepadaku agar aku bisa menjadi seorang sarjana.
Kehidupan yang tidak pernah mengenal kata istirahat,
karena terbentur biaya maka aku harus bekerja agar bisa membayar
kuliah. Banyak anak-anak diluar sana yang dengan seenaknya menghamburkan uang
orangtua nya dengan bermain-main selama masa perkuliahn.
Selama hampir empat tahun ku jalani, akhirnya tibalah
saatnya menyusun tugas akhir. Perjuangan yang sangat berat karena harus membagi
waktu dan konsentrasi antara bekerja dan mebuat skripsi.
Saat sidang pun tiba untuk menguji skripsiku, tidak
lupa ku memnita doa Ibu agar diberi kemudahan.
“Bu, Dina minta doanya ya agar aku diberi kemudahan
dalam menjalani sidang siang ini”. Kataku dengan lirih .
“ Iya Nak, Ibu akan berdoa dan berdzikir agar Dina
diberi kemudahan dalam menjalani sidang”. Jawab Ibu sambil memegang tasbih
ditangannya.
“ Saudara Dina anda dinyatakan lulus” jawab ketua
dosen penguji
“ Alhamdulilah, Allahu Akbar “ ucapku dengan haru dan
bangga
Perjuangan selama empat tahun akhirnya berbuah manis
dengan lulus menjadi seorang sarjana. Lelah dan letih pun serasa lenyap , yang
selama ini sangat berat.
Momen wisuda itu pun tiba. Memakai kebaya serta wajah
yang dirias oleh Ibu. Aku pun telah resmi menjadi seorang sarjana. Mewujudkan
cita-cita Ibu dan menjadi kebanggaanya.
“ Dina, Ibu sangat bangga padamu Nak, terima kasih Nak
kmu telah menjadi anak yang berbakti” ucap ibu sambil berurai air mata.
“ Terima kasih ya Bu, berkat doa Ibu Dina sekarang
sudah menjadi sarjana “ jawabku sambil memeluk Ibu.
Setiap usaha dan pengorbanan tidak ada yang sia-sia
selama diringi niat tulus dari dalam hati untuk membahagiakan orang tua.
Terima kasih Ibu atas semangat dan doa yang membuatku selau berdiri tegar dalam
menghadapi segala masalah dan rintangan.
Komentar
Posting Komentar