kenaikan tabung gas 12 kg


Kenaikan harga gas elpiji 12 kg yang semakin melambung membuat kepanikan usaha kuliner rumahan sejenis rumah makan dan rumah tangga menengah atas. Kekhawatiran beralihnya konsumsi dari elpiji 12 kg ke  elpiji 3 kg tidak bisa dielakan lagi, terutama dilakukan oleh pemilik rumah makan sederhana. Sejak kenaikan beberapa kali, mereka yang sebelumnya menggunakan elpiji 12 kg kini sudah banyak beralih ke elpiji 3 kg.
Apa yang dilakukan mereka dan usaha kuliner rumahan lainnya bukan berarti tidak mampu membeli elpiji 12 kg. Menggunakan epiji non subsidi yang tiap saat naik artinya mereka harus tiap saat meinaikan standar harga makanan, tapi mereka tidak bisa berbuat seperti itu. Mereka beralasan karena para konsumennya kelas menengah bawah yang daya belinya tidak banyak peningkatan. Untuk mengurangi penurunan omset dan daya beli masyarakat, mereka lebih memilih mengunakan elpiji 3 kg dengan tujuan harga makanan yang mereka jual masih bisa terjangkau dibeli masyarakat menengah bawah. Elpiji 3 kg yang disebut tabung melon yang merupakan barang subsidi ini justru dinikmati pula kalangan menengah atas. Mereka pun beralasan karena elpiji non subsidi terlalu mahal.
Akhirnya elpiji 12 kg mejadi kurang laku di masyarakat menengah atas dan pengguna epiji 3 kg semakin meningkat. Akibatnya kelangkaan tabung melon di agen-agen sering terjadi. Peralihan penggunaan epiji ini bakan semata harga elpiji 12 kg yang terus naik. Terjadi karena sebelumnya harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya pada naik, dipicu oleh kenaikan harga BBM dan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang dikenal dengan istilah penerapan tarif penyesuaian atau adjustment tariff. Walau adjustment tariff dilakukan pada rumah tangga R1 (1.300 VA), rumah tangga R1 (2.200 VA), rumah tangga R2 (3.500-5.500 VA), industri menengah I3 (di atas 200 kVA), penerangan jalan umum P3, pemerintah P2 (di atas 200 kVA), industri besar I4 (di atas 30.000 kVA) dan pelanggan layanan khusus. Tapi imbasannya kemana-mana dan picu harga kebutuhan pokok, kebutuhan lainnya naik pula.
Masyarakat menengah bawah semakin menjerit, karena mereka pun kena dampaknya. Kenaikan harga elpiji 12 kg juga memicu munculnya para spekulan yang tidak bertanggung jawab. Ingin keruk keuntungan yang lebih besar, mereka mencuri kesempatan dengan melakukan lagi teknik oplolsan dari elpiji 3 kg ke elpiji 12 kg. Hal ini sudah banyak dikeuluh ibu-ibu rumah tangga, karena tabung melon yang isinya dapat dilihat dari slang indikator nyatanya tidak terisi penuh, bahkan tinggal setengahnya. PT. Pertamina tentunya tidak melakukan itu, dan dimanakah ini terjadi? PT. Pertamina dan pihak berwenang sudah semestinya dan tidak berhenti untuk melakukan pengawasan kembali terhadap agan-agen nakal. Epiji oplosan ini bukan samata menambah beban kerugian masyarakat penggunanya, pemerintah atau PT. Pertamina pun sangat dirugikan. Mengingat hal itu, pemerintah mesti matang mengeluarkan kebijakan.  Kenaikan elpiji tahun 2015 ini sudah menguntungkan PT. Pertamina. Tapi berpikir soal bangsa dan negara bukan sekedar berpikir menguntungkan sepihak, bermacam akibat buruk dari kebijakan itu harus ada dan ditemukan solusi yang baik oleh pemerintah selain memberi bantan tunai. Jangan sampai naiknya pendapatan negara dan niat baik meningkatkan kesejehteraan masyarakat justru jadi sebaliknya.

Berbicara bangsa dan negara harus menyeluruh, keuntungan semestinya bukan hanya dirasakan pemerintah dan sebagian masyarakat. Jika ada jalan lain yang lebih baik dari pada menaikan harga-harga kebutuhan dasar masyarakat, alangkah eloknya pemerintah dengan segera mencari berbagai alternatif. Alam Indonesia menyediakan segalanya, jangan biarkan rakyat Indonesia menderita dan merasa tidak memilikinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Hukum Perikatan

Hukum Dagang